Indonesia Soroti Eskalasi Konflik di Hadramout dan Al-Mahrah
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia menyatakan sedang memantau dengan cermat perkembangan situasi keamanan yang semakin memburuk di Republik Yaman, khususnya di dua wilayah rawan konflik: Hadramout dan Al-Mahrah. Ketegangan di wilayah tersebut meningkat signifikan sejak akhir Desember 2025.
Melalui akun resmi X (sebelumnya Twitter) @Kemlu_RI, pemerintah Indonesia menyampaikan pernyataan resmi pada Sabtu (27/12/2025), menegaskan bahwa dinamika yang terjadi di Yaman saat ini berpotensi memperburuk kondisi kemanusiaan yang sudah rapuh di negara itu.
Baca Juga : “Pemerintah Awasi Mutu Perikanan Saat Libur Nataru 2025“
“Indonesia mengikuti dengan seksama perkembangan situasi di Republik Yaman, termasuk di Hadramout dan Al-Mahrah,” tulis Kemlu RI dalam pernyataannya.
Pemerintah RI Serukan Penghentian Eskalasi dan Hindari Tindakan Sepihak
Menanggapi kondisi tersebut, Indonesia menyerukan kepada semua pihak yang terlibat untuk menahan diri. Pernyataan ini sekaligus merupakan bentuk keprihatinan atas meningkatnya ketegangan dan kekhawatiran akan dampaknya terhadap rakyat Yaman yang sudah lama menderita akibat perang dan krisis ekonomi.
“Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri, menghentikan eskalasi, serta menghindari tindakan sepihak yang dapat mengganggu stabilitas,” tegas Kemlu.
Indonesia juga memperingatkan bahwa tindakan sepihak tanpa koordinasi bisa memicu ketegangan baru yang berujung pada instabilitas kawasan dan memperparah konflik kemanusiaan yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Apresiasi Indonesia terhadap Upaya Damai oleh Arab Saudi dan Pihak Terkait
Dalam pernyataan yang sama, Kemlu RI mencatat dan mengapresiasi langkah-langkah diplomatik yang ditempuh Kerajaan Arab Saudi bersama negara-negara lain, serta pemangku kepentingan di Yaman, untuk mengurangi konflik dan mendorong rekonsiliasi nasional.
Arab Saudi, yang merupakan sekutu utama pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, telah memegang peran strategis dalam mengupayakan stabilitas melalui forum diplomatik regional maupun internasional. Indonesia menilai langkah tersebut sebagai kontribusi penting untuk membuka jalur dialog antara pihak-pihak yang berselisih.
Seruan Indonesia untuk Dialog Politik Inklusif di Bawah Naungan PBB
Lebih jauh, Kemlu RI kembali menegaskan komitmennya terhadap penyelesaian damai yang berkelanjutan di Yaman. Pemerintah Indonesia menekankan bahwa dialog politik yang inklusif dan komprehensif, di bawah koordinasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), adalah satu-satunya jalan yang layak untuk mengakhiri konflik secara permanen.
“Indonesia menegaskan kembali pentingnya penyelesaian damai melalui dialog politik yang inklusif dan komprehensif di bawah koordinasi PBB,” tambah Kemlu.
Selain itu, Indonesia menyuarakan dukungannya terhadap prinsip-prinsip internasional seperti penghormatan atas kedaulatan, kesatuan, dan integritas teritorial Yaman. Prinsip ini sesuai dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang menganut asas bebas aktif, serta selalu mengedepankan perdamaian dunia dan penyelesaian konflik secara damai.
Latar Belakang Ketegangan: Serangan Udara yang Picu Krisis Baru
Sebelumnya, konflik kembali mencuat setelah Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC)—sebuah kelompok separatis yang didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA)—menuduh jet tempur milik Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap posisi mereka di Hadramout pada Jumat (26/12/2025).
STC mengklaim serangan tersebut terjadi hanya sehari setelah Arab Saudi mendesak mereka untuk mengembalikan wilayah yang baru direbut dari pasukan pemerintah Yaman. Tuduhan ini memperlihatkan ketegangan antara dua kubu utama di dalam koalisi anti-Houthi, yakni pemerintah Yaman dan kelompok separatis selatan yang selama ini didukung negara-negara Teluk.
Meski belum ada pernyataan resmi dari pihak Arab Saudi terkait tuduhan tersebut, insiden ini memperlihatkan adanya perpecahan internal dalam koalisi yang selama ini bersatu melawan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Dampak Kemanusiaan dan Ancaman Terhadap Stabilitas Regional
Konflik di Yaman telah berlangsung sejak 2014, menyebabkan lebih dari 370.000 kematian menurut data PBB, dan memaksa jutaan orang mengungsi. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut krisis Yaman sebagai salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia.
Konflik yang melibatkan banyak pihak dengan dukungan eksternal ini telah menjadikan wilayah-wilayah seperti Hadramout dan Al-Mahrah sebagai medan baru ketegangan, yang sebelumnya relatif aman dibandingkan zona konflik utama di Yaman tengah dan utara.
Jika konflik terus menyebar ke wilayah-wilayah selatan, seperti yang terlihat dalam kasus Hadramout, maka potensi eskalasi meluas sangat mungkin terjadi. Hal ini akan memperburuk akses bantuan kemanusiaan, memperlebar polarisasi politik, serta mengancam keamanan pelayaran di Laut Arab dan Laut Merah.
Pandangan Indonesia Sebagai Negara Non-Blok yang Netral
Sebagai negara dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, Indonesia selalu berusaha menempatkan diri sebagai mitra netral yang mendorong diplomasi damai. Keikutsertaan Indonesia dalam berbagai forum internasional, termasuk GNB (Gerakan Non-Blok) dan OKI (Organisasi Kerja Sama Islam), membuat posisi Indonesia dihormati dalam isu-isu Timur Tengah.
Pernyataan terbaru dari Kemlu RI mencerminkan sikap konsisten Indonesia dalam menyerukan penghentian konflik bersenjata dan memprioritaskan dialog inklusif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk kelompok minoritas dan pemangku kepentingan lokal.
Penutup: Harapan Akan Solusi Damai dan Stabilitas Kawasan
Situasi yang berkembang di Yaman, khususnya di Hadramout dan Al-Mahrah, menjadi sorotan penting bagi komunitas internasional termasuk Indonesia. Seruan untuk menahan diri dan mencari solusi damai merupakan langkah tepat untuk mencegah kehancuran lebih lanjut di negara yang telah lama dilanda krisis.
Indonesia berharap seluruh pihak dapat menahan diri dan menjadikan proses politik sebagai jalur utama dalam menyelesaikan konflik. Stabilitas Yaman tidak hanya penting bagi rakyatnya, tetapi juga bagi keamanan regional dan internasional, termasuk jalur perdagangan global di kawasan Laut Merah yang sangat strategis.
Dengan konsistensi dalam menyerukan perdamaian dan mendukung peran PBB, Indonesia terus menunjukkan komitmennya sebagai bagian dari solusi bagi perdamaian dunia.
Baca Juga : “Korban Sipil Konflik Yaman Terus Berjatuhan“