Setahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Catatan, Evaluasi, dan Arah Baru Kabinet Merah Putih
agileministry.com – Satu tahun sudah berlalu sejak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka resmi mengemban amanah sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Dalam waktu singkat, duet ini telah menorehkan sejumlah langkah strategis yang menjadi fondasi pemerintahan baru. Meski belum sempurna, geliat optimisme di tengah masyarakat mulai terasa. Prabowo menegaskan bahwa seluruh kebijakan yang dijalankan pemerintahannya berfokus pada kesejahteraan rakyat dan penguatan fondasi ekonomi nasional.
Ekspektasi publik terhadap pemerintahan baru ini memang tinggi. Prabowo menegaskan bahwa seluruh menteri harus bekerja dalam satu visi dan misi, tanpa ego sektoral maupun kepentingan politik jangka pendek. “Tak ada lagi kepentingan golongan, kita semua bekerja untuk rakyat,” ucapnya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025).
Baca Juga : “Trump Tuduh Presiden Kolombia Terlibat Narkoba, AS Hentikan Bantuan“
Prabowo: Kabinet Adalah Sebuah Tim, Bukan Sekadar Struktur Kekuasaan
Presiden Prabowo mengibaratkan Kabinet Merah Putih seperti tim sepak bola. Dalam analogi tersebut, dirinya bertindak sebagai manager coach, sedangkan para menteri dan wakil menteri merupakan pemain di berbagai posisi strategis.
“Kalau kita ibaratkan tim sepak bola, saya boleh dianggap sebagai manajer pelatih, dan saudara adalah para pemain,” ujar Prabowo. Ia menegaskan bahwa setiap menteri memiliki peran penting—ada yang berperan sebagai striker untuk mencetak hasil cepat, dan ada yang berperan sebagai defender menjaga stabilitas kebijakan.
Kekompakan, menurut Prabowo, adalah kunci utama. Kabinet ini terdiri dari berbagai latar belakang partai politik, daerah, dan agama, namun seluruhnya bersatu untuk satu tujuan: Indonesia sejahtera. “Saya berterima kasih kepada semua yang berasal dari partai berbeda, suku berbeda, tapi kini bersatu demi bangsa,” tambahnya.
Ketegasan Prabowo: Tidak Segan Copot Menteri yang Tak Disiplin
Dalam orasi di Universitas Kebangsaan RI, Bandung (18/10/2025), Prabowo menunjukkan ketegasannya terhadap kinerja para menteri. Ia menegaskan tak segan mencopot menteri yang “nakal” setelah tiga kali peringatan.
“Saya kasih peringatan satu kali masih nakal, dua kali masih bandel, tiga kali, apa boleh buat—reshuffle,” tegasnya. Menurut Prabowo, ketegasan ini penting agar tidak ada pejabat yang bermain-main dengan amanah rakyat. Ia menyebut dirinya tak akan ragu menindak siapa pun yang merugikan negara.
“Demi bangsa dan rakyat, saya tidak boleh kasihan kepada pejabat yang menyalahgunakan jabatan. Yang saya kasihan justru rakyat Indonesia,” ujarnya dengan nada tegas.
Prabowo juga menegaskan bahwa ia tak peduli jika dibenci oleh koruptor atau manipulator yang merasa dirugikan oleh kebijakan bersih pemerintah. “Asal rakyat tidak benci saya, saya tidak masalah,” katanya sambil menegaskan bahwa dukungan rakyat adalah kekuatan terbesar bagi pemerintahannya.
Kabinet Bekerja Tanpa Mengenal Libur: Pengorbanan untuk Negara
Dalam Sidang Kabinet Paripurna, Prabowo mengapresiasi kerja keras seluruh anggota Kabinet Merah Putih. Ia bahkan meminta maaf kepada keluarga para menteri yang sering kehilangan waktu bersama karena padatnya agenda pemerintahan.
“Saya juga mohon maaf, terutama kepada keluargamu, karena saya sering menyita hari istirahatmu,” ucap Prabowo. Ia menceritakan bahwa dirinya kerap menghubungi para menteri di malam hari, bahkan subuh, untuk membahas kebijakan strategis.
Kabinet, menurutnya, tak mengenal tanggal merah. “Sepertinya di kabinet kita tidak ada hari libur. Sabtu, Minggu, malam pun tetap kerja,” ujarnya disambut tawa para menteri.
Presiden Prabowo menilai, kerja keras satu tahun terakhir sudah membuahkan hasil konkret. Ia yakin pemerintah kini dapat berdiri di hadapan rakyat dengan penuh kehormatan dan rasa percaya diri. “Kita sudah bekerja keras, dan hasilnya dirasakan langsung oleh rakyat,” tandasnya.
Retret Kabinet: Menyatukan Visi dan Semangat Gotong Royong
Untuk menjaga kekompakan tim, Prabowo berencana menggelar kembali retreat kabinet seperti yang dilakukan di awal masa pemerintahan. Tahun lalu, kegiatan tersebut digelar di Akademi Militer Magelang.
“Mungkin satu tahun ini perlu juga retreat lagi. Saudara-saudara tampaknya kangen tidur di tenda,” ujar Prabowo disambut tawa anggota kabinet. Retret ini bukan sekadar kegiatan santai, tetapi ajang konsolidasi dan refleksi atas capaian satu tahun pemerintahan.
Melalui kegiatan semacam itu, Prabowo ingin memastikan setiap menteri tetap berada dalam satu jalur visi besar: pemerintahan yang efektif, bersih, dan berpihak pada rakyat kecil.
Evaluasi Satu Tahun: Penguatan Struktur dan Reformasi Birokrasi
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa evaluasi satu tahun pemerintahan menjadi dasar berbagai perubahan struktur kementerian. Dalam kurun waktu setahun, setidaknya tiga kali reshuffle dilakukan, termasuk pembentukan Kementerian Haji dan Umrah serta transformasi Kementerian BUMN menjadi Badan Pengaturan BUMN.
Menurut Prasetyo, perubahan tersebut bukan tanda ketidakpastian, melainkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap kebutuhan riil pemerintahan. “Dalam perjalanannya, kita menemukan ada sektor yang perlu diperkuat dan ada yang perlu dirampingkan,” ujarnya.
Ia mencontohkan pembentukan direktorat baru untuk mengatasi permasalahan perizinan pondok pesantren yang sebelumnya diabaikan. “Banyak pondok pesantren tidak memiliki izin bangunan. Maka kita bentuk direktorat khusus untuk memastikan keselamatan dan legalitasnya,” jelasnya.
Prasetyo menegaskan bahwa penyempurnaan struktur kementerian adalah hal wajar dalam dinamika pemerintahan modern. Ia mengibaratkan kabinet sebagai tim sepak bola yang harus beradaptasi di tengah pertandingan. “Kita terus berlatih, memperbaiki strategi agar hasilnya maksimal,” tutupnya.
Menatap Tahun Kedua: Pemerintahan yang Lebih Solid dan Terarah
Satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran telah menjadi fase pembuktian dan konsolidasi. Berbagai kebijakan strategis, mulai dari peningkatan ketahanan pangan, penguatan industri pertahanan, hingga stabilitas ekonomi nasional, mulai menunjukkan hasil nyata.
Tantangan di tahun kedua tentu lebih kompleks. Prabowo menegaskan pentingnya menjaga ritme kerja dan semangat pengabdian para menteri agar visi besar Indonesia Emas 2045 dapat tercapai.
“Pemerintahan ini bukan sekadar tentang kekuasaan, tapi tentang tanggung jawab kepada rakyat,” ujar Prabowo menutup sidang kabinet. Ia menegaskan bahwa hanya dengan kerja nyata dan keteguhan hati, Indonesia bisa terus melangkah menuju kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.
baca Juga : “Timur Kapadze Siap Gantikan Patrick Kluivert di Timnas Indonesia“