Harga Bitcoin Naik Tajam di Awal Pekan
Harga Bitcoin kembali mencuri perhatian pasar kripto setelah mengalami lonjakan signifikan di awal pekan ini. Berdasarkan data pada Senin, 27 Oktober 2025 pukul 08.00 WIB, nilai Bitcoin (BTC) menembus level USD 114.500. Kenaikan tersebut mencerminkan peningkatan sebesar 10,6% dibandingkan posisi terendah sebelumnya di USD 103.530 selama periode perdagangan 17–27 Oktober 2025.
Financial Expert Ajaib, Panji Yudha, menilai kenaikan harga Bitcoin ini didorong oleh dua faktor utama, yakni sentimen makroekonomi dan geopolitik global. “Pergerakan Bitcoin minggu ini akan didominasi oleh dua sentimen besar tersebut,” ujarnya dalam catatan resmi.
Selain itu, Panji mengamati adanya korelasi negatif antara Bitcoin dan emas selama periode perdagangan tersebut. Saat harga Bitcoin naik, emas justru mengalami koreksi tajam. Tokenisasi emas (XAUT) tercatat turun lebih dari 8% dari rekor tertingginya di USD 4.395.
Baca Juga : “Donald Trump Beberkan Alasan Pengampunan Changpeng Zhao“
Investor Beralih dari Safe Haven ke Aset Berisiko
Menurut Panji, penurunan harga emas menjadi sinyal kuat bahwa pasar tengah mengalami pergeseran sentimen dari “risk-off” menuju “risk-on”. Koreksi emas membuat sebagian investor mulai keluar dari aset lindung nilai tradisional dan kembali mencari peluang di aset berisiko seperti Bitcoin.
“Perpindahan modal ini menandakan kembalinya minat terhadap aset berisiko, khususnya di sektor kripto,” ujar Panji. Ia menambahkan, momentum ini menjadi cerminan keyakinan investor bahwa tekanan makroekonomi mungkin mulai mereda, setidaknya dalam jangka pendek.
Namun, kenaikan Bitcoin tersebut tidak terlepas dari dua agenda penting pekan ini yang berpotensi memengaruhi arah pasar secara keseluruhan, yakni keputusan suku bunga The Federal Reserve dan KTT Amerika Serikat–China.
The Fed Siap Umumkan Keputusan Suku Bunga
Panji mengungkapkan, kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) menjadi faktor pertama yang akan menentukan arah pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari mendatang. The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada 29 Oktober 2025.
“Pasar futures dana Fed memproyeksikan hampir pasti terjadi pemotongan suku bunga sebesar 25 basis point,” jelas Panji. Dengan demikian, kisaran target suku bunga akan turun ke level 3,75%–4,00%.
Jika pemangkasan benar terjadi, langkah ini bisa memperkuat sentimen positif di pasar kripto. Penurunan suku bunga umumnya menekan nilai dolar AS dan mendorong investor untuk mencari alternatif investasi dengan potensi imbal hasil lebih tinggi—termasuk aset digital seperti Bitcoin.
Namun, bila keputusan The Fed bertolak belakang dengan ekspektasi pasar, volatilitas bisa meningkat tajam. Investor akan memantau setiap pernyataan dari Ketua The Fed terkait arah kebijakan lanjutan untuk sisa tahun 2025.
KTT AS–China Jadi Penentu Sentimen Geopolitik
Selain faktor moneter, situasi geopolitik global juga menjadi pusat perhatian. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dijadwalkan bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping, pada 30 Oktober 2025. Pertemuan tingkat tinggi ini akan membahas isu perdagangan dan tarif impor antarnegara.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengonfirmasi bahwa pejabat dari kedua negara telah mencapai “konsensus awal” terkait isu perdagangan utama. Menurutnya, ancaman tarif 100% terhadap produk asal China kini sudah tidak lagi dibahas secara serius.
“Pertemuan ini bisa menjadi titik balik bagi pasar global,” jelas Panji. Ia menambahkan, hasil positif dari KTT tersebut dapat memperkuat sentimen risk-on dan mendorong harga Bitcoin untuk melanjutkan tren penguatan. Sebaliknya, jika negosiasi kembali memanas, pasar berisiko termasuk kripto bisa mengalami tekanan korektif.
ETF Bitcoin Catat Kenaikan Inflow Signifikan
Dari sisi fundamental pasar, indikator kepercayaan investor terhadap aset kripto juga terlihat dari aliran dana ke ETF Bitcoin spot yang mengalami rebound signifikan pada minggu ketiga Oktober 2025. Berdasarkan data dari SoSoValue, total inflow mingguan mencapai USD 446 juta atau sekitar Rp 7,41 triliun (asumsi kurs Rp 16.619 per dolar AS).
Puncak inflow terjadi pada 21 Oktober 2025, dengan masuknya dana sebesar USD 477 juta (Rp 7,92 triliun)—tertinggi sepanjang bulan ini. Meski sempat mengalami arus keluar di 20 dan 22 Oktober, minat beli kembali meningkat pada 24 Oktober, ditandai dengan tambahan inflow sekitar USD 90,6 juta (Rp 1,5 triliun).
“Pergerakan ini menandakan pemulihan kepercayaan investor terhadap Bitcoin setelah tekanan jual pekan sebelumnya,” tutur Panji. Sebelumnya, pada periode 13–17 Oktober, ETF Bitcoin justru mencatat outflow besar mencapai USD 1,23 miliar (Rp 20,44 triliun), yang sempat menekan total aset kelolaan (AUM) di bawah USD 145 miliar.
Dave Ramsey: Bitcoin Seperti “Roda Roulette”
Sementara itu, dari sisi opini publik, pandangan skeptis terhadap kripto masih muncul dari sejumlah tokoh keuangan ternama. Salah satunya adalah Dave Ramsey, penulis buku keuangan dan pembawa acara “The Ramsey Show.”
Dalam wawancara di Shawn Ryan Show pada April lalu, Ramsey menegaskan sikapnya yang anti-kripto. Ia bahkan menyebut investor yang menaruh seluruh dananya di Bitcoin sebagai “bodoh”. “Jika Anda melihat grafik Bitcoin dan tidak melihat risiko, Anda bodoh,” tegasnya.
Ramsey mengibaratkan Bitcoin sebagai “roda roulette”, di mana peluang dan risiko berputar tanpa kepastian. Menurutnya, orang kaya dengan aset di atas USD 100 juta bisa menempatkan sebagian kecil uangnya di kripto tanpa risiko besar. Namun, bagi investor muda yang menaruh seluruh dana pada Bitcoin, langkah itu dianggap sama berbahayanya dengan berjudi di Las Vegas.
Spekulasi vs Investasi: Risiko yang Sering Diabaikan
Ramsey menilai banyak investor kripto keliru membedakan antara spekulasi dan investasi. Ia menegaskan bahwa investasi sejati bersifat jangka panjang dan berbasis fundamental, sedangkan spekulasi hanya mengandalkan pergerakan harga jangka pendek.
“Kripto mungkin berkembang, menjadi lebih stabil, dan canggih, tetapi tetap saja berisiko tinggi,” kata Ramsey. Ia menambahkan, seseorang seharusnya hanya menaruh uang di kripto sebesar yang siap mereka lepaskan sepenuhnya tanpa penyesalan.
Ia bahkan menyamakan fenomena kripto dengan “aliran sesat finansial,” di mana para penggemarnya sering bersikap fanatik terhadap pandangan mereka. “Beberapa orang memperlakukan kripto seperti agama baru,” ujarnya sarkastik.
Prospek Ke Depan: Momentum atau Euforia Sementara?
Kombinasi antara sentimen moneter, geopolitik, dan peningkatan aliran dana ETF memberikan momentum positif bagi Bitcoin untuk tetap bertahan di level tinggi. Namun, volatilitas tetap menjadi risiko utama yang perlu diwaspadai.
Jika The Fed benar-benar memangkas suku bunga dan KTT AS–China menghasilkan kesepakatan positif, Bitcoin berpotensi menembus level psikologis USD 120.000 dalam waktu dekat. Sebaliknya, jika hasil kebijakan tidak sesuai ekspektasi, koreksi harga dapat terjadi dengan cepat.
Para analis menilai, keseimbangan antara risk appetite investor dan kebijakan ekonomi global akan menjadi kunci utama dalam menentukan arah Bitcoin hingga akhir tahun. Dalam kondisi seperti ini, disiplin manajemen risiko dan diversifikasi aset menjadi strategi paling bijak untuk menghadapi ketidakpastian pasar kripto yang dinamis.
Kesimpulan:
Pergerakan harga Bitcoin pekan ini menjadi cerminan dari dinamika pasar global yang kompleks. Dua sentimen utama—kebijakan suku bunga The Fed dan pertemuan geopolitik AS–China—akan menjadi faktor penentu arah tren kripto ke depan. Sementara itu, meski sebagian investor optimistis, kritik dari tokoh seperti Dave Ramsey mengingatkan bahwa Bitcoin tetaplah aset berisiko tinggi yang memerlukan strategi investasi cermat dan rasional.
Baca Juga : “JPMorgan Izinkan Klien Gunakan Bitcoin & Ethereum Jadi Jaminan Kredit“
