Bandara Kertajati Dinilai Layak Jadi Pusat Industri Pertahanan Terpadu
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, secara resmi mengusulkan transformasi Bandara Kertajati menjadi kawasan industri pertahanan nasional. Menurutnya, lokasi ini memiliki keunggulan strategis dan infrastruktur yang memenuhi syarat untuk mendukung pesawat militer.
“Kami melihat Kertajati lebih dari sekadar kawasan ekonomi khusus. Ini bisa menjadi pusat industri pertahanan nasional,” ujarnya pada Jumat (21/11/2025).
Dedi menegaskan bahwa fasilitas Bandara Internasional Kertajati saat ini telah memenuhi standar operasional penerbangan militer. Dengan begitu, sangat memungkinkan jika kawasan ini digunakan untuk konsolidasi dan pengembangan industri pertahanan domestik.
Baca Juga : “KPK Pamer Uang Korupsi Rp300 M, Begini Alasan Perdana“
Relokasi Industri Pertahanan dari Bandung ke Kertajati
Dedi Mulyadi juga menyampaikan rencananya untuk merelokasi beberapa fasilitas industri pertahanan nasional dari Bandung ke Kertajati. Menurutnya, kawasan Bandung sudah terlalu padat, khususnya di area yang menampung PT Dirgantara Indonesia dan instalasi militer lainnya.
“Relokasi ini bisa membantu mengurangi beban ruang di Bandung, termasuk kawasan Husein Sastranegara,” ujarnya.
Gubernur Dedi menambahkan bahwa kepindahan ini tidak akan menjadi beban besar bagi APBN. Sebab, nilai ekonomi lahan eksisting di Bandung cukup tinggi dan dapat dimanfaatkan kembali untuk pembangunan lain.
“PTDI bisa pindah ke Kertajati dan lahannya di Bandung bisa diberdayakan untuk menopang biaya relokasi,” tambahnya.
Dukungan Pemerintah Pusat Lewat Bappenas
Usulan ini mendapat respon positif dari pemerintah pusat. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menyatakan bahwa pihaknya siap mempercepat penyusunan rencana teknis kawasan industri pertahanan di Kertajati.
“Kami akan mempercepat perencanaan teknis dan memastikannya bersinergi dengan Pemprov Jabar,” ujarnya.
Rachmat juga menyoroti bahwa pengembangan kawasan ini mencakup Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) untuk pesawat militer, bukan hanya sipil. Hal ini dianggap strategis untuk memperkuat kemandirian teknologi pertahanan nasional.
Efisiensi Anggaran Daerah Jadi Alasan Kuat
Bappenas menekankan bahwa optimalisasi lahan Kertajati penting untuk menghindari pemborosan anggaran daerah. Menurut Rachmat, jika lahan yang sudah dibebaskan tidak dimanfaatkan, maka setiap tahun pemerintah daerah tetap harus menganggarkan biaya pemeliharaan.
“Lebih baik segera digunakan agar menghasilkan dampak ekonomi,” tuturnya.
Ia juga menambahkan bahwa Bappenas telah menugaskan tim khusus sejak awal untuk mengawal perencanaan kawasan ini secara konsisten.
Potensi Jadi Kawasan Industri Pertahanan Satu-satunya di Asia
Dalam rapat koordinasi, Rachmat mengungkapkan bahwa jika pengembangan ini berhasil, maka Kertajati bisa menjadi satu-satunya kawasan industri pertahanan terpadu di Asia.
“Jika ini terwujud, kita punya keunggulan strategis yang luar biasa,” ucapnya.
Menurutnya, pembangunan kawasan ini akan menjadi momentum penting untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah dan menempatkan Indonesia sebagai pemain utama dalam sektor industri pertahanan regional.
Menarik Minat Investor dan Percepat Transfer Teknologi
Dengan status sebagai kawasan industri pertahanan nasional, Kertajati diyakini akan lebih menarik bagi para investor dalam dan luar negeri. Selain jaminan keamanan yang tinggi, kawasan ini juga menawarkan peluang besar untuk transfer teknologi dan pengembangan sumber daya manusia lokal.
Dedi menyebut bahwa pemusatan industri strategis di satu titik akan memudahkan proses produksi, distribusi, hingga inovasi teknologi pertahanan.
Sinergi Antarlembaga Jadi Kunci Realisasi
Pembangunan kawasan ini tak lepas dari pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku industri pertahanan. Dedi menegaskan bahwa koordinasi harus dilakukan secara intensif agar proyek ini bisa berjalan sesuai target.
“Kami siap bekerja sama penuh dengan Kementerian Pertahanan dan BUMN strategis seperti Pindad dan PTDI,” kata Dedi.
Penutup: Arah Baru Industri Pertahanan Nasional
Usulan Dedi Mulyadi menandai babak baru dalam tata kelola industri pertahanan Indonesia. Dengan mengintegrasikan kekuatan infrastruktur dan geoposisi strategis Kertajati, Indonesia berpeluang membangun pusat industri pertahanan nasional yang modern, efisien, dan kompetitif di kawasan Asia.
Pemerintah pusat dan daerah kini memiliki momentum kuat untuk merealisasikan kawasan ini sebagai simbol kemandirian bangsa dalam sektor pertahanan—sekaligus menjawab tantangan kepadatan perkotaan dan pemerataan pembangunan di luar pusat kota besar seperti Bandung.
Baca Juga : “Dedi Mulyadi Disodori Empat Agenda Besar Sunda, Apa Saja?“
